SAHABAT (Cerpen)


        Hai semua! Nama aku Shafia Faiza Azahra. Sekarang aku duduk di bangku kelas 9 SMPN 179 Jakarta Timur. Sekolahku memang tidak sebesar sekolah-sekolah favorit lainya di Jakarta, lingkungan sekolahku juga bukan termasuk lingkungan elit yang dikelilingi gedung-gedung pencakar langit. Tapi dengan segala kekurangan yang ada di sekolahku, aku tetap bangga menjadi siswi SMPN 179. Dengan segala kekurangannya namun sekolahku menyimpan banyak cerita yang baru aku dapatkan selama memasuki jenjang SMP. Cerita itu mulai dari perkenalan, pertemanan, persahabatan, bahkan percintaan. Mungkin semua orang pernah mengalami hal seperti itu bahkan hal itu menjadi sesuatu yang sangat dikenang nantinya. Kalau aku ceritakan satu persatu mungkin tidak ada habisnya, aku hanya ingin menceritakan persahabatanku yang sekarang.
            Pasti setiap insan memiliki seorang yang membuat hidupnya lebih berwarna dan jika tidak ada orang itu kita bukan apa-apa sebut saja mereka sahabat. Memang benar sahabat itu yang membuat semuanya menjadi lebih hidup dan mereka selalu ada disaat kita butuhkan. Sebut saja mereka UCUNG, mereka adalah sahabatku yang pernah bahkan baru aku miliki di SMP ini. Mereka itu Anggi Pratiwi Putri, Dhea Nabila Maharani, Rifa Khairunisa, M. Hafizh Anzas I, dan Farhan Habibie. Entah apa yang terlintas dibenak kita semua saat itu, tiba-tiba terlontar kata UCUNG. Kita sudah sering bareng-bareng dari kelas 8, awalnya kita hanya berbincang lewat pesan singkat.
 ”Eh lagi apa nih cung?” kata anggi.
            “Lagi gak ngapa-ngapain, main yuk cung!” balasku dipesan singkat.
Nah dari situlah akhirnya kita bikin panggilan UCUNG. Itu bukan nama suatu kelompok, itu hanya sebutan sebagai konyol-konyolan saja. Lagian kita tidak tahu maksud UCUNG itu apa, kita gak mau disebut suatu kelompok.
            Sifat kita memang berbeda-beda mulai dari Anggi, perempuan yang hitam manis ini mempunyai sifat yang sedikit egois. Dhea, perempuan berkacamata  yang bertubuh  tinggi semampai ini penakut apalagi dengan yang berbau mistis. Rifa, perempuan berkacamata ini agak sedikit pendiam dibanding yang lain. Hafizh, pria yang satu ini memang yang paling muda diantara kita semua wajar saja sifat kekanak-kanakannya masih ada walaupun begitu Hafizh itu ngertiin banget sahabat-sahabatnya. Yang terakhir Farhan, pria yang humoris dan gak beda jauh sama Hafizh.
            Suatu ketika aku ngerasa sedikit dongkol sama sifat Anggi yang egois. Sampai aku ada niatan untuk ngejauh sejenak dari Anggi dan itu benar aku lakukan. Dhea sampai bingung kenapa aku dengan Anggi.
“Kamu kenapa sih shaf sama Anggi?” tanya Dhea kepadaku.
“Hah? Aku gapapa, cuma ngetest dia aja” jawabku bohong.
“Oalah, ngetest gimana?” tanya Dhea lagi.
“Ya ngetest aja dia gimana responnya aku gituin” jawabku.
Setelah lama berbincang dengan Dhea aku pun berkata jujur.
“Ya aku gak suka aja sama sifat dia yang egois kaya gitu”.
“Iya emang dia orangnya egois kaya gitu, ya kamu balik lagi lah kaya dulu biar gak pecah gini!” saran Dhea.
“Ya tapi aku sebel dhe” jawabku dongkol.
            Sehari, dua hari, bahkan tiga hari aku tidak kontak-kontakan dengan Anggi. Biasanya ketika jam istirahat kita semua ngumpul dibawah pohon belimbing wuluh yang ada di depan kelasnya Farhan. Namun karena aku lagi males baget sama Anggi sesudah sholat Dhuha aku langsung ke kelas. Yang biasanya aku tegur sapa bahkan berpelukan sama Anggi jika bertemu, sekarang seperti orang yang tidak saling kenal. Terkadang aku berfikir ‘gak enak juga kaya gini jaga jarak sama sahabat tuh gak enak kaya ada yang beda’.
            Sepulang sekolah aku langsung membuka jejaring sosial twitter dilaman berandaku terlihat Anggi dan Rifa sedang membicarakan aku “Iyaya sekarang dia berubah banget, kasian ya” kata Rifa kepada Anggi. Aku memang sudah tahu maksud ‘dia’ itu aku ya tapi aku hanya menganggap itu biasa dan aku tidak peduli. Aku bingung harus cerita ke siapa, aku tidak mau cerita ke Hafizh sama Farhan aku takut semuanya jadi lebih rumit. Akhirnya aku cerita dan aku luapkan semuanya ke adek kelas ku Angger. Ternyata dia punya hal sama seperti aku, dia memiliki sahabat yang egois bahkan lebih egois dari Anggi. Sekarang aku paham disuatu hubungan itu pasti ada pasang dan surutnya, bahagia dan sedih, bahkan pertemuan dan perpisahan, sumua sudah satu paket didalam suatu kehidupan.
            Keesokan harinya aku memutuskan balik lagi seperti awal, aku yang dulu yang selalu bareng-bareng sama UCUNG, aku yang tegur sapa sama Anggi jika bertemu. Memang aku tidak banyak berbicara untuk balik menjadi aku yang dulu, aku tidak bilang ini itu bahkan aku juga tidak minta maaf dengan Anggi. Entah apa yang ada di pikiranku, aku hanya ingin kembali seperti dulu lagi dan gak mau panjang lebar ngomong ini itu. Beruntung Anggi juga memaafkan ku walaupun aku tidak mengatakan maaf, dan dia sadar kalau dia itu egois, jadi sekarang aku kembali seperti biasa dengan Anggi dan sekarang menjadi kita yang saling percaya dan memahami satu sama lain.
            Kita semua sekarang jadi lebih sering ngumpul, main bersama, ngelakuain hal yang kurang masuk akal yang beda dari persahabatan lainnya. Tidak terasa hampir 3 tahun aku sekolah di SMP dan hampir 1 tahun aku bersama UCUNG. Banyak hal-hal bareng UCUNG yang bisa dikenang nantinya. Aku masih mau bereng-bereng nanti kalau sudah masuk jenjang SMA bahkan aku berharap kita semua satu sekolah lagi. Kita berencana satu SMA lagi tujuannya SMA 106 yang letaknya gak jauh dari rumahku. Sampai saat itu, kebetulan jam pulang sekolah lebih cepat kita semua memutuskan untuk ngumpul dirumah Hafizh dan kita lewat depan SMA 106.
            “Shaf, Dhe, Nggi, Rif... sekolah masa depan kita!!” teriak Hafizh yang membonceng Farhan.
“Weyy...” teriak kami semua.
Memang ada saja kelakuan Hafizh yang bisa bikin kami semua tertawa.
...
            Saat duka bersama, tawa bersama
            Berpacu dalam prestasi(huh) hal yang biasa
            Satu persatu memori terekam
Didalam api semangat yang tak mudah padam
Kuyakin kau pasti sama dengan diriku
Pernah berharap agar waktu ini tak berlalu

Itulah secarik lirik lagu Bondan&Fade2Black yang berjudul Kita Selamanya yang sering kami dengarkan. Lagu  dimana yang membuat penikmatya menjadi teringat kembali ketika masa sekolah dan merasa ingin mengulangnya bahkan tidak ingin berlalu rasanya. Sama seperti aku dan UCUNG kita semua masih ingin bersama dan rasanya aku ingin mengulang dimana kali pertama aku masuk SMP, berkenalan dengan teman baru, naik ketingkatan selanjutnya, bertemu UCUNG, kita main bersama, dan kita sekarang ada ditahun terakhir dimasa SMP. Memang semua hal yang membuat kita nyaman akan terasa cepat berlalu. Mereka berbeda dengan teman-teman yang lainnya, jika tidak ada mereka aku bukan apa-apa, aku tidak akan seceria sekarang, aku sudah menganggap mereka seperti keluargaku sendiri. Sepertinya tidak ada setiap minggu kita tidak main bersama, pasti setiap minggu kita main atau hanya sekedar kumpul saja.
            Terkadang terlintas difikiranku ‘Bagaimana nantinya kalau kita semua sudah beda sekolah? Kita pasti jarang kumpul lagi’. Hanya tetesan air mata yang mengalir jika teringat semua hal yang pernah aku lakukan bersama mereka. Jika memang nantinya kita pisah aku mau kita sukses masing-masing dan dipertemukan lagi. Biarkan, mereka juga pasti ingin mengejar mimpi mereka masing-masing. Sekarang aku menjalani yang ada saja, apa yang aku alami sekarang dan berusaha memberikan yang terbaik untuk mereka.           
                                                                        

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perpisahan

Entah Tulus atau Bodoh

Ragu